Setelah Pulang

Sebelum berangkat ke Jepang untuk pertukaran pelajar, yang ada di pikiran saya hanya menjalani hidup di sana selayaknya warga lokal seperti belanja bahan makanan, naik kereta untuk bolak-balik ke kampus, dan tinggal di kawasan yang mirip daerah rumah Nobita, dan kuliah seperti biasa. Semuanya benar saya jalani dan nikmati. Tapi ternyata ada lagi yang lebih berkesan dan kedatangannya tidak diprediksi: perspektif baru soal kemanusiaan.

Sebagai orang yang belum pernah menginjak tanah lain selain Indonesia, saya seringkali berpikir bahwa bertemu orang selain orang Indonesia ya… biasa aja. Tapi nyatanya setelah bertemu banyak mahasiswa dari negara lain, saya beberapa kali tergagap juga saat berinteraksi dengan mereka. Bukan gagap bicara, melainkan gagap tindakan. Ada aja rasa ragu karena takut gak sesuai dengan nilai dan cara bergaul mereka. Walaupun begitu, pada akhirnya semua manusia sama jadi bisa aja ngobrol dengan teman-teman dari Tiongkok, Korea Selatan, dll. Ternyata kita semua selama ini hanya punya sedikit kesempatan buat saling mengenal dan mengerti.

1,5 bulan

Ada benarnya juga ucapan mengenai bahaya menyukai sesuatu secara berlebih. Saya selalu suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Jepang. I still do, though. Tapi ada perspektif lain yang saya dapat dari menjalani hidup di Tokyo, yang mungkin juga mengubah perasaan suka saya ke negeri ini.

Sumber pikiran itu dari… manusianya. Menjalani hidup di Tokyo (bukan sekedar jalan-jalan) memberikan banyak kesempatan untuk mengamati dan menjadi bagian dari masyarakat ini. Belanja, naik kereta ke kampus, makan-makanan murah, dsb. Rasa yang segera saya tangkap adalah: sepi yang mencekam.

Keramaian dan hiruk-pikuk Tokyo tidak menjamin kota ini ‘hidup’. Orang-orang bergerak ke sana ke mari dengan wajah datar, stasiun yang ramai diisi dengan bunyi derap langkah dan alarm mesin tiket, keramahan yang sebatas norma, tekanan untuk conform dengan masyarakat, ah…