Di Balik Dentuman Dangdut

Segerombolan (11 orang) manusia terjebak macet dari daerah Kopo menuju Dago Pakar di sebuah bis berkapasitas 59 orang tanpa ada yang memegang alat komunikasi maupun uang karena kegiatan sebelumnya, arung jeram, memaksa mereka untuk menyerahkan segala bekal duniawi tersebut untuk dibawa ke villa lebih dulu.

Saat itu sedang diputar lagu-lagu dangdut klasik yang pernah menemani masa kecil anak kelahiran 90-an. Saya dengan yakin bilang bahwa lagu itu menemani karena anak-anak 90-an tumbuh saat kelas menengah di perkotaan meningkat dan kedua orang tua bekerja sehingga ditemani pengasuh yang tentunya menggemari dangdut. Bersama salah satu teman, saya menikmati lagu-lagu Meggi Z yang diputar seperti Senyum Membawa Luka, Jatuh Bangun, dsb. Kami akhirnya meracuni yang lain untuk memperhatikan dengan saksama lirik lagu-lagu Meggi Z yang puitis dan penuh perasaan, berbeda dengan dangdut zaman sekarang yang bikin jengah. Akhirnya semua peserta memperhatikan liriknya, ya di satu sisi terpaksa karena tidak bisa buka instagram, path, atau line.

Di lagu Jatuh Bangun, alm. Meggi Z menegaskan bahwa

Percuma saja berlayar kalau kau takut gelombang,

percuma saja bercinta kalau kau takut sengsara.

Dengan kata lain: gelombang merupakan keniscayaan yang harus dihadapi ketika berlayar, begitu juga dengan kesengsaraan dan cinta. Hubungan kausalitas itu menunjukkan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Pihak laki-laki begitu mencintai perempuannya hingga rela menyengsarakan diri,
  2. Pihak laki-laki begitu bodoh,
  3. Apa iya berakhir sengsara?

Di sinilah senior saya menggebrak pemikiran dangdut itu dengan mengatakan bahwa jatuh cinta itu sia-sia dan mungkin terjadi dari sekedar social pressure. Saya tidak heran dengan pemikirannya tersebut karena label ‘logis’ disematkan pada mereka yang mengambil keputusan yang dapat memberikan kepuasan maksimum. Dari kerangka pikir tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia seharusnya tidak memilih hal yang dapat menyengsarakan mereka. Mungkin saja laki-laki dalam lagu Meggi Z itu hanya mendapat tekanan sosial untuk mencintai seseorang dengan berbagai tujuan berdasarkan lingkungan sosialnya. Komentar tersebut sangat keras dan menyakitkan, terutama bagi penikmat dangdut. Mungkin manusia berjiwa halus dan melankolis tidak dapat, atau tidak mau, menerima komentar yang bisa saja benar itu.

Diskusi tidak berakhir sampai ranah filosofis. Sekumpulan manusia kurang kerjaan ini juga mengomentari musikalitas dangdut yang ditunjukkan alm. Meggi Z dalam Senyum Membawa Luka. Saya dan teman saya sangat setuju bahwa jeda sejenak dan teknik staccato yang digunakan Meggi Z pada bagian awal bait:

Kuanggap belum seberapa

… Dahsyatnya

Teknik tersebut menekankan pada kata “Dahsyatnya” dan seperti ingin mengagetkan pendengar dengan kedahsyatan tersebut. Teknik jeda ini cukup bertebaran di lagu ini: pada bagian akhir lagu, alm. Meggi Z mengulang kata “Teganya” sebanyak 12 kali dan memberi jeda pada pengulangan kesekian. Saya dan teman saya awalnya berpikir lagu tersebut sudah selesai, sampai Meggi Z memberi kejutan dengan melanjutkan kembali bagian “teganya” tersebut. Sungguh menarik.

Sayangnya musik dangdut saat ini sudah tidak mengutamakan talenta, sama halnya dengan musik pop Indonesia. Padahal, musik ini bisa dikatakan penggerak ekonomi rakyat di daerah pertanian maupun pesisir, yang biasanya tentu lebih hidup atau vibrant. Bagaimana tidak, orkes dangdut seringkali diundang untuk acara pernikahan atau sunatan yang biasanya diadakan saat musim panen. Pemilik lahan mengundang orkes untuk menunjukkan kedigdayaannya dan petani gurem dan supir truk menikmatinya selagi bisa. Putaran uang dari undang-mengundang dan sawer-menyawer tentu besar; ada distribusi pendapatan dari penyawer ke yang disawer juga di situ. Tentunya keriaan dan kesempatan ekonomi tersebut tidak dapat diabaikan oleh generasi muda hasil demographic boom di masa depan.

Kesimpulan: Jujur saja kalau lagu dangdut klasik itu enak.

 

 

Advertisements

On Being A Woman

At least three friends of mine from college “accused” me of not being women alike (watching soccer games was considered as not girly). I countered their statement by a question:

“What do you mean by woman?”.

They didn’t know.

Asked again one question: “So how do you come up with the idea?”.

They still didn’t know the answer. It was kind of disappointing to hear your college friends making a baseless statement. To think of it, the same question actually goes to me and other humankind. What is woman?

Basically, woman usually refers to a female human, a human with ovaries, uterus, vagina, and breasts which act as secondary sex characteristic. Sexually speaking, one can be categorized as female if there’s no Y chromosomes, relatively low testosterone level, etc. Since I satisfy all the requirements, sexually, I can say I am a female human. A woman.

But let us put aside our naivety. I am fully aware that my friends were referring to gender roles when saying “woman”. Well, we now have another question: what is gender role? Gender role refers to a set of behavioral norms constructed by a particular society for men and women which includes attitudes and personality traits to distinguish both genders. I stress the word “norms” to remind you that gender roles are based on agreement and dynamic, for these are a form of norms. Woman in Europe and Asia might have different interpretation but none is right (agreement, remember?). To make it clear, think the word “woman” and see what thoughts pop up in your mind. Perhaps, most people would think woman as weak, natural cook, inferior to men, sympathetic, stay at home mom, responsible for raising children, lack of  technical skills, graceful, beautiful, and bla bla bla. Those are gender roles. So when one doesn’t classify me as woman, it means I am lacking at least one of those traits. But I think conversely because my family, as the smallest form of society, raises me as a girl. And perhaps your family have different definition of woman so it is highly difficult to judge people by knowing the fact that you know nothing about one’s family.

One last question: do I really have to take the first question seriously? Well, I don’t care if it applies to me, but there are tremendous amount of women who suffer due to stereotyping or gender roles. It is heartbreaking to see Indian, African, Arabian, and Indonesian women who are forced into marriage, cannot educate herself, and hurt their physics to be “beautiful”. They cannot improve their life and trapped in vicious circle of poverty.

My last statement: Woman, if you want to be something, just be it. People, stop stereotyping everything.

And spare your time to watch the video below.

Tentang Kami dan Kita

Dalam bahasa Indonesia, terdapat kata “kami” dan “kita” yang maknanya berbeda. “Kami” adalah kata ganti orang pertama majemuk yang tidak melibatkan orang kedua (Anda, kamu, kalian, dsb), sedangkan “kita” melibatkan orang kedua atau lawan bicara. Sebagai perbandingan, bahasa Inggris tidak mengenal kata yang sepada dengan “kami”, kata ganti orang pertama majemuk yang digunakan hanyalah “we” yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia adalah “kita”. Selain bahasa Inggris, bahasa-bahasa yang dituturkan di Eropa (di luar wilayah Kaukakus), juga tidak mengenal kata “kami”. Pertanyaan pribadi yang muncul, apa ada hubungannya dengan penjajah dan yang dijajah?

Pembedaan “kami” dan “kita” dikenal dengan istilah klusivitas atau clusivity. Klusivitas membedakan kata ganti orang pertama majemuk inklusif (“kita”) dan eksklusif (“kami”). Nah, ternyata klusivitas terdapat dalam bahasa-bahasa Austronesia, Australia, Dravida, dan beberapa daerah lain. Bahasa Indonesia sendiri termasuk dalam kelompok bahasa Austronesia. FYI, kelompok bahasa Austronesia adalah salah satu kelompok bahasa yang sudah lama dituturkan dan tersebar di Oseania, Asia Tenggara, Madagaskar, dan Taiwan. Hasil sedikit baca-baca dan dengar, ras Austronesia ini asalnya dari Taiwan yang berlayar menggunakan perahu bercadik. Karena itu, sebenarnya bahasa Indonesia dan beberapa bahasa daerah lain bunyinya mirip-mirip dengan bahasa-bahasa Austronesia.

Malayo-Polynesian-en.svg

Klusivitas jadi menarik karena perkembangan penggunaannya dan yang terpenting: dari mana datangnya klusivitas?
Penyesuaian bahasa terus terjadi karena manusia sebagai penuturnya mengalami perubahan, terutama dari segi sosial, dan penyesuaian dalam situasi tertentu yang membutuhkan pembedaan.
Contoh paling lazim munculnya klusivitas adalah dalam bisnis. Bahasa Jepang mengenal “temae-domo” yang sepadan dengan “kami”, biasa digunakan dalam hubungan penjual-pembeli. Ada lagi karena perubahan internal dalam masyarakat yang menuturkan. Sayangnya, pemahaman masih rendah untuk alasan yang kedua karena belum ada (atau belum menemukan) cross-language data.
Apa klusivitas lahir dari penjajahan atau bangsa Eropa? Kalau menengok sejarah bahasa Austronesia yang sudah lama ada dan penuturnya banyak, rasanya klusivitas ada bukan karena penjajahan atau bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Indonesia pada abad 16 (Portugis). Tapi masih ada kemungkinan lain yang belum dibaca karena kurang jurnal terkait yang GRATIS dan mungkin belum diteliti(?).

Bahan bacaan:
http://en.wikipedia.org/wiki/Clusivity
http://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_East_Indies
http://en.wikipedia.org/wiki/Indo-European_languages
http://en.wikipedia.org/wiki/Malay_language
Osada, Toshiki. 2003. A Historical Note on Inclusive/Exclusive Opposition in South Asian Languages -Borrowing or Retention or Innovation?-. Kyoto: Kyoto University of Art and Design.