37,000 Kaki

Jarum arlojinya menunjuk angka 10. Entah di zona waktu mana, yang jelas penerbangan bertolak dari belahan Bumi bagian subtropis. Bosan dan lelah. Dia memulai pembicaraan dengan makhluk di sampingnya untuk merasakan kehadiran manusia di perjalanan panjang ini.

“Kira-kira 2 jam lagi akan mendarat. Semoga.”

“Ya, betul. Sayangnya 2 jam lagi pula kita selesai.”

Bingung. Bibir yang tadinya menyunggingkan senyum menjadi sangat datar.

“Sebagai penumpang dengan kursi bersebelahankah maksudnya?” Mari berpikir postif selayaknya ajakan para yogi di daerah urban.

“Apa kita hanya sebatas itu?”

Akhirnya terjadi juga, pikirnya. Sesaat dia ingin meminta izin kru untuk terjun ke bawah, siapa tahu ada awan empuk yang bersedia untuk menangkapnya. Penyesalan sudah bertamu untuk mengganggu pikirannya. Sayang dia tidak menemukan alasan untuk membiarkan penyesalan tentang pertemuannya, sepaket dengan segala masalah antara mereka, untuk masuk. Semua ingatan dirasa perlu mampir dalam hidupnya. Tidak kurang, tidak lebih.

Makhluk di sampingnya menengok ke arahnya; potongan adegan itu terekam dari sudut matanya yang sedang melawan lubernya kantung air mata. Tengokan itu menjadi hal terakhir yang ingin dilihatnya, tapi di saat bersamaan juga ingin disimpannya. Dia sadar sepenuhnya bahwa masa depan, atau bahkan esok hari, bukan tujuan mereka seberapapun mereka ingin mencapainya.

Gagal. Air mata berhasil menggedor pertahanannya selagi dia menatap kosong jendela pesawat yang tertutup. Dengan mata basah, bibirnya mengucap yakin

“Saya akan kembali melihat Anda sebagai orang yang hanya berbagi ilmu di kelas saya.”

– Tokyo, 6/5/2016, 00:02 

 

Pantai Utara

Dia menahan napas. Baginya titel ‘pemuka agama’ beserta kostum kebesaran yang sudah menjadi kesehariannya selama tidak lebih dari lima tahun harus dijaga baik. Waktu belasan tahun yang dihabiskan di pondok untuk belajar agama dan menahan napsu tidak boleh terbuang sia-sia hanya karena satu pertunjukan dangdut yang sangat duniawi. Harusnya pertunjukan ini berisi setan semua. Ya, setan! Tapi dia tidak bisa membendung pikirannya. Perempuan gila dan berani! Rela menggunakan baju ketat dan pendek untuk mencari uang, sedangkan dia membagi ilmu agama dengan bayaran untuk mencapai tujuan yang sama. Dosakah kedua tindakan itu? Bisa jadi tidak. Semua orang harus rasional; uang untuk makan demi bertahan di dunia walaupun nanti di tengah perjalanan mereka lupa untuk apa meneruskan upaya bertahan hidup ini. Untuk sekali waktu, pikiran itu bisa meredam kebutuhan ragawinya sebagai lelaki. Barangkali juga untuk menutupi bahwa ada yang menyelinap dan membuat dadanya sakit ketika melihat perempuan itu di atas panggung.

Udara penghabisan hujan tidak membuatnya kedinginan walaupun pakaian panggungnya minim. Lagipula dia masih harus melantunkan, kalau bukan meracau, lagu kedua untuk malam ini. Tangan-tangan berseliweran siap menangkap kakinya yang berisi dan kencang, wajah personil grup dangdut yang datar, segala gerakan yang harus dilakukannya untuk mendapat rezeki lebih sudah jadi santapan sehari-hari. Banyak kalimat sumbang yang datang dari mulut tetangga-tetangganya tentang pekerjaan ini. Kesal? Tentu tidak karena suami dari ibu-ibu bermulut lincah itu berkhayal menidurinya (sesekali khayalan itu menjadi kenyataan untuk balas dendam). Jalani saja, menjadi objek lelaki toh bukan hal yang sulit, batinnya berteriak. Lagi, tidak ada yang salah dari melakoni peran perempuan yang ingin hidup. Harus lanjut, tidak bisa tidak.

Irama lagu dangdut yang meliuk-liuk terus bertabrakan dengan sorak-sorai penonton. Goyangan dan peluh keringat membuat acara semakin semarak. Pemuka agama muda tetap memandangi si biduan dengan saksama. Perempuan yang dianggap hina itu tetap maju.

Ini hanyalah sebuah malam biasa di salah satu sudut pesisir utara Jawa.

 


10 Maret 2015

Cerita ini merupakan salah satu rangkaian dari ketertarikan penulis terhadap budaya dan dinamika sosial di daerah pesisir, terutama Pantura, yang mana sering disambangi dalam perjalanan darat menuju Yogyakarta saat mudik.

 

Pendekata #1

Jakarta masih macet dan timur sana masih sepi. Langkah kecilnya menjejak perlahan, membelah lautan manusia yang membanjir jalan raya. Panas rasa tropis menghantam ribuan kepala, tapi dia tidak risih. Ada yang menunggunya di sana.

Tiupan sendu angin menyambut kedatangannya. Guratan lembayung melintasi langit senja kala.

Anak mungil itu berlarian ke arahnya tanpa beban. Hari ini, lagi, dia ciptakan kebohongan yang harusnya tak perlu ada.


 

 

Tulisan ini dikarang oleh dua orang secara bergantian. 

Perpusat UI, 15 April 2014