Pertanyaan “mengapa?” atau “kenapa?” mungkin menjadi pertanyaan yang paling sering muncul di kepala manusia sejak dulu. Masalahnya, apa kita mau menanggapi percakapan dengan diri sendiri itu? Mungkin juga banyak yang lupa karena tidak bisa menjawab?

 

Rasa penasaran, yang mau repot-repot tau tentang macam-macam hal, sangat nagih untuk dirasakan. Dulu waktu SD, belajar invertebrata dan vertebrata saja sudah membangunkan isi otak. Oh, ternyata makhluk hidup gak selamanya seperti manusia (kita). Naik level ke SMP, belajar makhluk lain dan sel-selnya, invertebrata dan vertebrata sudah menjadi hal biasa dan dikejutkan dengan hal lain. Belajar fisika, oh ternyata bisa ya gelombang dipantulkan. Seterusnya. Sepanjang perjalanan itu, “mengapa bisa begitu?”, “mengapa rumusnya begitu?”, dan “mengapa kita perlu belajar ini?” sering lalu-lalang. Apakah selalu terjawab? Tidak, tapi paling tidak ada usaha untuk menjawabnya. Tapi (lagi), ketika ada usaha untuk menjawabnya, gampang sekali untuk berpindah pertanyaan ke topik lain. Pertanyaannya selalu muncul, bersambung, tidak pernah habis, pun tidak pernah terpuaskan dengan jawaban yang didapat. 

Masuk ke tingkat universitas, akses ke ilmu pengetahuan sangat mudah dan sedikit kewalahan. Menjadi anak ekonomi bukan batasan untuk belajar ilmu lain yang super seru. Bertemu orang-orang yang pintar mengolah “mengapa?” sempat membuat minder dan mendorong untuk mencari jawaban dari pertanyaan milik sendiri. Lama-lama, mulai menyadari bahwa pengetahuan yang dari kecil itu, kalau menggunakan istilah bird eye view, berukuran mikro dan kemudian jarak pandang bertambah sedikit dari kuliah, baca, ngobrol, bahkan twitter, terus bertambah dan mulai melihat secara keseluruhan (walaupun masih jauh). “Oh, ini pandangan berdasarkan bird eye view gue, yang tidak selamanya benar, tapi bisa dipertanggungjawabkan.”

Bagaimana? Apa akhirnya menemukan jawaban?

Tidak puas juga sebenarnya. Malah semakin tahu semakin merasa kecil. Toh akhirnya sadar juga bahwa yang paling penting untuk disadari bukan semata-mata jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, tapi bagaimana kita bisa menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya dengan memandang alam semesta dengan cara lain.

Well, anak SD harusnya dilatih bertanya, bukan disuapin jawaban.

Opini: Tentang Seleksi Masuk PT

Kenapa kita butuh seleksi masuk PT yang terintegrasi?

Karena seleksi masuk yang banyak dan bertubi-tubi seperti sekarang tidak efektif, mengingat materi yang diujikan tidak berbeda jauh, hanya penyajiannya saja yang berbeda. Selain itu, biaya yang dikeluarkan juga bisa diperkecil karena seleksi yang dilakukan hanya sekali tapi bisa untuk melamar ke berbagai universitas (tidak hanya 3 prodi/universitas seperti SBMPTN). PTS juga bisa menjadi universitas yang menggunakan seleksi. Yang paling penting, agar siswa tidak tertekan.

Tetap saja ada kemungkinan siswa tidak lolos, kan? 

Ya, betul. Tapi, seleksi masuk ini bukan satu-satunya komponen yang menilai siswa dapat lolos ke universitas pilihan atau tidak. Seleksi ini hanya mengeluarkan nilai siswa pada masing-masing mata uji. Komponen lain mungkin bisa wawancara, esai, atau tes kesehatan. Tergantung masing-masing universitas. 

Baik, ini mungkin menguntungkan siswa. Apa keuntungannya untuk PT?

Karena seleksi masuk ini bukan satu-satunya komponen penentu, PT bisa menentukan komponen lain seperti yang tadi disebutkan. Memang harusnya PT, lembaga pendidikan yang sepenuhnya mandiri, menentukan sendiri kriteria calon mahasiswa yang sesuai dengan karakter PT-nya. Jangan didasarkan pada hasil seleksi saja karena tidak menggambarkan calon mahasiswa secara keseluruhan. Selama ini ‘kan hanya berdasarkan seleksi masuk, masih mentah, kasarnya. Itu keuntungan untuk PT.

Apa seleksi seperti ini sudah ada sebelumnya?

Ada. Seleksi sejenis ini sudah diselenggarakan di berbagai negara seperti SAT (AS), EJU (Jepang), A Level (negara dengan kurikulum Cambridge). 

 

Impian: bisa bikin seleksi masuk kayak begini.