Maaf-Maafan

Setelah menjalani hidup secara lebih sadar daripada masa-masa labil saat SMP, ada dua hal yang menurut saya sulit untuk dilakukan sebenar-benarnya: meminta maaf dan memaafkan.

Meminta maaf

Sesaat setelah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, seringkali ada pertengkaran di dalam kepala: apa saya salah? Kenapa saya bisa melakukan itu? Dibutuhkan takaran yang tepat untuk menurunkan ego dan harga diri hingga akhirnya mampu mengakui kesalahan. Dan kesadaran bahwa hidup ini bukan melulu soal kita. Tahap ini mungkin tidak sulit bagi kebanyakan dari kita karena memang sehari-harinya manusia sangat sering melakukan kesalahan. Kata ‘maaf’ menjadi begitu mudah diucapkan sehingga marginal value-nya hampir 0. Tidak jarang saya mendengar permintaan maaf seperti:

“Maaf, deh,”

“Ya udah, maaf maaf.”

Saya selalu mengingatkan diri bahwa waktu tidak bisa diulang untuk mencegah terjadinya kesalahan tersebut. ‘Maaf’ yang diucapkan secara sungguh-sungguh saja belum tentu memperbaiki kondisi, apalagi yang diutarakan secara asal-asalan. Saya rasa paling tidak kita harus merasa menyesal. Inilah tahapan yang cukup sulit. Sebagai spesies dengan kemampuan otak yang terbatas, manusia hampir setiap kali terpengaruh bias ketika mengambil keputusan. Kita cenderung melakukan hal-hal yang menyenangkan saat ini, walaupun di masa depan ada biaya yang harus kita tanggung untuk menebusnya. Begitupun dengan penyesalan. Kembali, saya berusaha untuk mengingat bahwa ketika saya menunda penyesalan, mungkin apa yang saya lakukan ketika sadar nanti sudah tidak ada artinya. Basi, kalo kata Cinta ke Rangga. Gimana rasanya hidup dihantui rasa menyesal? Gimana rasanya hidup dengan rasa bersalah yang cuma ditebus setengah?

Memaafkan

Bagi saya, ini jauh jauh jauh lebih sulit daripada minta maaf. Bayangkan rasanya dirugikan orang lain secara fisik, finansial, dan/atau mental. Mungkin kerugian fisik dan finansial dapat kembali ke semula, tapi mental? Rasa percaya yang hilang? Sakit hati? Teman saya di Jepang ada yang depresi karena ini. Kalo begitu, apa pasti kata ‘maaf’ dari orang lain bisa menghapus semuanya?

Saya sangat menghindari untuk memaafkan seseorang ketika saya belum sepenuhnya “memaafkan” karena saya pikir itu munafik. Untuk apa saya memaafkan jika nanti saya masih mengungkit kesalahan itu? Ada sih, kondisi ketika saya memaklumi dengan mudah, toh saya juga sering melakukan kesalahan dan tau rasanya berada di posisi bersalah. Gak enak. Yang butuh ilmu tinggi itu ketika kesalahannya di luar batas toleransi kita. Maunya orang itu merasakan apa yang kita rasakan juga. Lagi-lagi dibutuhkan kedewasaan untuk bertanya pada diri sendiri: buat apa? Saya sendiri tidak bisa bicara banyak tentang hal ini karena saya termasuk yang sulit memaafkan. Hanya ada satu kesalahan besar yang betul-betul saya terima dengan ikhlas beberapa tahun lalu. 

I’m not a saint. Tapi juga tidak mengidentifikasi diri sebagai orang keji. Ya, walaupun saya tau saya tidak akan ke mana-mana dengan tidak memaafkan, tetap aja sulit. But, I know I should at least try my best later. 

Intinya, sih, sebisa mungkin respek orang lain dan belajar ilmu ikhlas.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s