37,000 Kaki

Jarum arlojinya menunjuk angka 10. Entah di zona waktu mana, yang jelas penerbangan bertolak dari belahan Bumi bagian subtropis. Bosan dan lelah. Dia memulai pembicaraan dengan makhluk di sampingnya untuk merasakan kehadiran manusia di perjalanan panjang ini.

“Kira-kira 2 jam lagi akan mendarat. Semoga.”

“Ya, betul. Sayangnya 2 jam lagi pula kita selesai.”

Bingung. Bibir yang tadinya menyunggingkan senyum menjadi sangat datar.

“Sebagai penumpang dengan kursi bersebelahankah maksudnya?” Mari berpikir postif selayaknya ajakan para yogi di daerah urban.

“Apa kita hanya sebatas itu?”

Akhirnya terjadi juga, pikirnya. Sesaat dia ingin meminta izin kru untuk terjun ke bawah, siapa tahu ada awan empuk yang bersedia untuk menangkapnya. Penyesalan sudah bertamu untuk mengganggu pikirannya. Sayang dia tidak menemukan alasan untuk membiarkan penyesalan tentang pertemuannya, sepaket dengan segala masalah antara mereka, untuk masuk. Semua ingatan dirasa perlu mampir dalam hidupnya. Tidak kurang, tidak lebih.

Makhluk di sampingnya menengok ke arahnya; potongan adegan itu terekam dari sudut matanya yang sedang melawan lubernya kantung air mata. Tengokan itu menjadi hal terakhir yang ingin dilihatnya, tapi di saat bersamaan juga ingin disimpannya. Dia sadar sepenuhnya bahwa masa depan, atau bahkan esok hari, bukan tujuan mereka seberapapun mereka ingin mencapainya.

Gagal. Air mata berhasil menggedor pertahanannya selagi dia menatap kosong jendela pesawat yang tertutup. Dengan mata basah, bibirnya mengucap yakin

“Saya akan kembali melihat Anda sebagai orang yang hanya berbagi ilmu di kelas saya.”

– Tokyo, 6/5/2016, 00:02 

 

Advertisements