Keakuanku

Pada suatu kesempatan, saya dan seorang teman bertandang ke Galeri Nasional yang terletak persis di depan Stasiun Gambir. Kunjungan ini berawal dari niat untuk melihat-lihat pameran jurusan Arsitektur UI hingga kemudian secara impromptu masuk ke ruang pamer tetap Galeri Nasional.

Sebelum masuk ke dalam ruang pamer, banyak sekali larangan untuk membawa barang-barang yang dapat mengganggu ketertiban, termasuk tongsis. Setelah menitipkan barang, berangkatlah kami ke bagian koleksi seni lukis Indonesia pada zaman Belanda hingga zaman setelah pendudukan Jepang, yang mana konsep sanggar lukis mulai populer di kalangan seniman. Di ruang koleksi bagian pertama itu justru saya menyadari ada “koleksi” atau pameran lain yang dipertontonkan: segala rupa anak muda berusia tanggung ketawa-ketiwi bersama teman-temannya sambil mengambil foto dari berbagai sudut dan… gaya. Mereka sibuk mondar-mandir ruang pamer untuk mencari latar foto yang cocok untuk mereka. Terima kasih sudah berkunjung ke Galeri Nasional tapi bukan, sayangnya bukan lukisan Raden Saleh atau lukisan Sindu Sudjojono yang jadi fokus melainkan diri muda-mudi itu sendiri.

Bagi saya kelakuan mereka merupakan tontonan atau sesuatu yang patut diamati pula. Ke mana foto-foto bersama teman atau foto diri sendiri dengan latar lukisan itu berakhir? Cukup yakin foto itu akan berakhir di media sosial, entah Instagram atau Path. Kemudian pertanyaan lanjutannya menjadi, untuk apa?

Tindak-tanduk pengunjung Galeri Nasional hanya sepenggal dari kelakuan warga kelas menengah yang juga pengguna media sosial terbanyak. Kita bisa sebut satu-persatu, foto-foto makanan di tempat makan yang seringkali mahal (tidak lupa tag tempat), foto saat travelling (tidak lupa ada foto pemeran utamanya di antara tempat tujuan), foto barang-barang kepunyaan, dan banyak lagi. Tentunya itu menjadi hak sepenuhnya dari pemilik akun tapi saya sebagai pengguna dan penonton seketika jengah. Para pemilik akun seakan-akan mendefinisikan dirinya dengan makanan yang difotonya, acara yang dikunjungi, dan berbagai perangkat lainnya. Gue kurang update kalau belum melakukan (isi sendiri). Update pengemis atau kemiskinan di sekitar tapi ketika dikomen “sudah menolong?”, belum juga sih atau mungkin lupa. Tapi ‘kan utamanya adalah aku aku aku! Bahaya laten narsisme merajalela! Ketika segala hal itu tercerabut, kita kelimpungan dan terhuyung-huyung untuk sekadar menuliskan identitas diri kita.

Sepenggal masyarakat kita jadi satu warna karena motif tindakannya sama: memberikan kesan kepada orang lain bahwa hidupnya sempurna dengan definisi tadi. Saling berebutan menunjukkan bahwa kita juga bisa menjadi mereka. Dosakah saya jika mengkhawatirkan bahwa gejala ini dapat menimbulkan kurangnya empati pada kejadian di sekitar kita karena toh yang terpenting, aku! Secara pribadi paling terganggu dengan foto jalan-jalan yang menjadikan tempat tujuan hanya sebagai aksesoris dari pemeran utamanya. Ritual jalan-jalan direduksi jadi kegiatan foto-foto diri sendiri padahal tempat-tempat itu punya cerita sendiri. Membosankan. Saya ingin melihat lebih banyak isi yang tulus: foto bersama teman karena memang meninggalkan kesan, foto travelling yang menghargai tempatnya, foto makanan yang memang dimakan dengan penuh nafsu, foto yang menggambarkan kegemaran orang itu, apapun lah yang layaknya hidup normal dan bisa membuat kita saling belajar. 

Di sisi lain, saya sadar betul bahwa ini bukan sesuatu yang hanya dialami generasi sekarang atau tiba-tiba muncul mengingat manusia memang punya ego dan rasa ingin diidentifikasi. Media sosial yang hadir beberapa tahun ke belakang hanya memberikan panggung lebih luas dan beragam untuk menunjukkan sifat itu. Bisa dilihat dari banyaknya pengguna yang umurnya sudah lebih tua tapi berkelakuan tidak jauh beda dengan generasi sekarang. Racauan ini mungking gambaran dari rasa sirik saya karena tidak berniat mengikuti tren. Atau mungkin juga kita sedang beramai-ramai memberi makan ego kita masing-masing.

Oh, kembali lagi ke Galeri Nasional. Kalau boleh usul, saya ingin sekali menambahkan tulisan di pintu ruang pamer tetap yaitu,

HARAP TITIPKAN EGO DAN NARSISME ANDA DI TEMPAT PENITIPAN!