Menggugat Kesenangan Bapak-Bapak

Sebagai seorang yang tidak pernah merasakan langsung rezim Suharto dan mendapat gaya pendidikan yang cukup berbeda dengan generasi sebelumnya, saya seringkali bingung dengan istilah asal bapak senang atau ABS yang menjadi terkenal (entah kapan munculnya) di rezim tersebut. ABS ini merujuk pada tindakan-tindakan yang dilakukan bawahan untuk menyenangkan atasannya, tidak peduli yang dikerjakan ini benar atau salah, adil atau menindas, ya pokoknya asal atasan senang. Kalau dipadankan dengan bahasa Inggris, mungkin ABS bermakna lebih kurang sama dengan yes man. ABS bisa jadi salah satu bentuk untuk mengagungkan atasan. Selain itu, ABS ini sebenarnya bersifat patriarki kalau dipikir-pikir karena “atasan” diberi panggilan “bapak” padahal bisa jadi perempuan juga, kan? Tapi itu masuk ke gugatan lain, yang ingin saya sorot adalah sebab ABS bisa hadir di tengah masyarakat.

Sebelumnya, apakah ABS sebenarnya masalah? Bisa jadi tidak kalau perintah atasannya ini dapat menyelesaikan masalah. Bisa jadi ya kalau atasannya tidak waras. Dari sini kita bisa menilai bahwa ABS sangat bergantung pada kesehatan mental atasan yang tidak bisa kita kontrol. Katanya, ABS sangat marak di rezim Suharto hingga akhirnya babak belur di akhir abad 20. Lagi, di zaman modern ini, apa seharusnya masih ada batasan jelas antara atasan dan bawahan? Untuk lebih jelas, bahasan ini tidak mengangkat atasan dan bawahan dalam dunia kerja saja, tapi juga status di kehidupan sehari-hari. “Atasan” yang dimaksud adalah siapapun yang dianggap lebih tinggi derajatnya dibanding orang lain dan “bawahan” adalah sebaliknya. Mengapa fenomena ini terasa parah di Indonesia?

Jika ditengok sejarahnya, wilayah-wilayah di Indonesia hampir pasti pernah berada di bawah kerajaan atau kesultanan. Kerajaan yang dianggap pertama hadir di Indonesia, Kerajaan Kutai, bernapaskan ajaran Hindu yang mana menganut sistem kasta. Sistem kerajaan mengenalkan perbedaan antara penguasa (raja dan keluarganya) dan yang dikuasai (rakyat jelata dan abdi) ke Nusantara. Mungkin, sebelum ada catatan sejarah lain yang membatalkan pernyataan ini, kita bisa anggap bahwa sistem kerajaan membawa bibit ABS. Begitupun kesultanan Islam yang ada di Pulau Jawa (Demak, Mataram Islam, dsb.) karena akar kesultanan ini adalah kerajaan Hindu-Buddha yang ada di Pulau Jawa (Majapahit).

Maju sedikit ke era kedatangan kolonialisme ke Nusantara, kerajaan dan kesultanan mulai kehilangan giginya bersamaan dengan pengukuhan posisi Belanda sebagai penguasa. Sistem kasta tidak serta-merta hilang, justru semakin menjadi-jadi. Bupati-bupati dijadikan raja-raja kecil oleh Gubermen dan pegawai pemerintah diberi status priyayi yang menuntut perlakuan di atas rakyat biasa hanya karena diupah oleh Gubermen. Gambaran tentang perilaku mereka ada di berbagai buku seperti Max Havelaar, Tetralogi Buru, Para Priyayi, dsb. Menjengkelkan, karena suapan pemerintah kolonial membuat mereka di atas angin dan menindas bangsanya sendiri karena ya… asal saya senang. Bisa jadi juga sifat ini yang melanggengkan kekuasaan Belanda di Indonesia karena kecintaan para atasan ini pada status quo yang menyenangkan hati mereka, kekayaan dan keistimewaan dihormati rakyat jelata.

Di awal tulisan ini saya kebingungan tentang ABS, mengapa di peradaban modern ini, yang manusianya lebih terpelajar dari sebelumnya, masih saja ada tindakan yang mengagungkan seseorang yang statusnya di atas orang lain? Bukannya manusia dinilai dari perbuatannya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s