Review: Anak Semua Bangsa

Judul: Anak Semua Bangsa (Child of All Nations)

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara

Tahun: 2006

9.5/10

anak-semua-bangsa

Anak Semua Bangsa merupakan buku kedua dalam Tetralogi Pulau Buru yang dibuat oleh Pramoedya Ananta Toer selama menjadi tahanan politik di Pulau Buru. Tetralogi Pulau Buru sendiri berlatar belakang kondisi Indonesia saat kaum terpelajar mulai bangkit, lebih tepatnya dimulai pada awal abad ke-20. Sebagai sebuah roman, Pram menggunakan tokoh Raden Mas Minke, seorang anak bupati di Tanah Jawa, untuk menumpahkan pikiran-pikirannya mengenai manusia dan Indonesia.

Pada Bumi Manusia, buku pertama dalam tetralogi ini, Minke diceritakan mulai berkenalan dengan Nyai Ontosoroh—seorang wanita pribumi yang dijadikan gundik oleh Belanda totok bernama Robert Mellema. Berbeda dengan wanita pribumi pada masa itu, Nyai Ontosoroh fasih berbicara bahasa Belanda, Melayu, dan Jawa, juga ahli dalam mengelola perusahaan perkebunan yang didirikan oleh Robert Mellema. Pikirannya amat luas dan tidak terkungkung budaya Jawa. Minke sangat terkagum-kagum dengan kecerdasannya dan ketidaklaziman tingkah laku Nyai Ontosoroh pada masa itu, ditambah statusnya yang hina sebagai gundik. Tentu, Minke turut terkesima dengan kecantikan anak perempuannya: Annelies Mellema. Banyak kejadian yang menyertai setelah pertemuan mereka, termasuk kepergian Annelies ke Belanda secara paksa yang menyebabkan hati Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh remuk.

Kehidupan Minke dan Nyai Ontosoroh dalam menghadapi perampasan terbesar dalam hidup mereka dituangkan dalam Anak Semua Bangsa. Kekejian kolonialisme menjadi tamparan tersendiri bagi Minke yang menuntut pendidikan Belanda dan sering menulis dalam bahasa Belanda. Digambarkan bagaimana perjuangan seorang anak bupati dan lulusan HBS ini dalam memahami semua yang terjadi pada bangsanya, khususnya di Pulau Jawa. Lagi, perkenalan Minke dengan Angkatan Muda asal Tiongkok semakin membuka pandangannya tentang apa yang terjadi di belahan bumi lain, belahan bumi yang bukan Pulau Jawa. Tokoh asal Tiongkok ini juga memberikan pencerahan kepada Minke betapa pentingnya membela bangsa sendiri. Buku ini menggambarkan kewalahan Minke untuk mencerna, ditambah kesadaran bahwa dia tidak memahami bangsanya sendiri karena terlalu lama bergaul dengan bangsa Eropa. Tokoh Minke digambarkan begitu naif dan gusar; mencari-cari nilai untuk dijadikan pegangan. Di sisi lain, Nyai Ontosoroh tetap menjadi perempuan yang wibawa dan cerdas dalam menghadapi kesulitan-kesulitannya. Pengalaman hidup rupanya telah menjadikan dia begitu mantap dalam mengambil langkah. Walaupun begitu, Nyai Ontosoroh akhirnya runtuh juga beberapa kali karena Annelies dan pengkhianatan Robert Mellema di masa lampau.

Jika dibandingkan dengan Bumi Manusia, alur cerita dalam Anak Semua Bangsa lebih fokus pada perkenalan tokoh terhadap dunia luar dan sesuatu yang baru. Minke ditantang untuk lebih mengenal bangsanya dengan menulis dalam bahasa Melayu, bahasa yang saat itu dianggap bukan bahasa kaum terpelajar. Sepertinya Pram ingin menekankan bahwa untuk dapat memahami suatu bangsa, seseorang harus merasa, melihat sendiri apa yang terjadi, dan  berbicara dengan bahasa yang digunakan bangsa tersebut. Unsur kemanusiaan memang menjadi kekuatan dalam tema yang diangkat oleh Pram dalam Tetralogi Pulau Buru. Pram ingin menunjukkan begitu banyak penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan terhadap kaum tak berdaya. Pada beberapa bagian cerita, Pram juga menyorot sifat ‘gila jabatan’ kaum pribumi yang tidak segan untuk menginjak-injak bangsanya sendiri hanya demi jabatan. Di buku ini sangat terasa kritik Pram terhadap kaum terpelajar. Kaum terpelajar Indonesia, yang seharusnya membela apa yang diyakini benar, membiarkan penindasan yang terjadi di depan mata mereka. Ironis.

Walaupun berlatar zaman kolonialisme, berbagai cerita dan nasihat-nasihat yang ada dalam buku ini masih relevan dengan Indonesia saat ini. Jika ditelaah lebih dalam lagi, buku ini dapat dijadikan renungan bagi manusia. Apakah manusia telah menjalankan nilai-nilai kemanusiaan? Untuk menjadi seperti itu, Pram menyatakan salah satu idenya lewat tokoh Jean Marais yang memberi nasihat kepada Minke:

“Kau adalah seorang terpelajar! Kau harus adil– adil sudah sejak dalam pikiran.”