Pendekata #1

Jakarta masih macet dan timur sana masih sepi. Langkah kecilnya menjejak perlahan, membelah lautan manusia yang membanjir jalan raya. Panas rasa tropis menghantam ribuan kepala, tapi dia tidak risih. Ada yang menunggunya di sana.

Tiupan sendu angin menyambut kedatangannya. Guratan lembayung melintasi langit senja kala.

Anak mungil itu berlarian ke arahnya tanpa beban. Hari ini, lagi, dia ciptakan kebohongan yang harusnya tak perlu ada.


 

 

Tulisan ini dikarang oleh dua orang secara bergantian. 

Perpusat UI, 15 April 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s