Keluhan Manusia Urban

Mungkin benar bahwa kota besar menghisap energi manusia di dalamnya dengan nafsu. Mungkin benar warna kota besar abu-abu karena rutinitas. Klise. Mungkin semua kegundahan manusia cuma ada di buku-buku yang terdampar di rak self-improvement. Mungkin sebenarnya dunia nihil masalah psikologis a la manusia urban. Mungkin.

Bagaimana sih hidup itu seharusnya?

Apa sih yang harus dilakukan?

Pertanyaan-pertanyaan (sok) filosofis mampir sebentar di pikirannya akibat terlalu lama terkapar di dalam rumah. Iya, bercakap dengan orang lain jadi momok dan hidup cuma pengulangan mati rasa dari hari ke hari. Ah, lagi-lagi.

Dia menimbang-menimbang kapan hidupnya terasa asik, saat waktu cuma terdiri dari sekarang dan pertanyaan filosofis jadi sampah pikiran. Lupa. Oh, mungkin, cuma kemungkinan, ada satu masa seperti itu ketika dia duduk, ngobrol, menengok jalanan dengan makhluk lain itu. Nanti dan lalu tidak pernah ada, yang ada hanya sekarang. Sekarang yang dilalui dengan emosi-emosi yang sangat drama. Sekarang yang terasa tak pernah habis.

Mungkin itu yang seharusnya, hadir sepenuhnya dan memeluk waktu. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s